Mencegah Kebakaran di Kapal Peti Kemas

June 22, 2019 @ 12:32 am
Mencegah Kebakaran di Kapal Peti Kemas

Mencegah Kebakaran di Kapal Peti Kemas – Setahun terakhir telah terjadi sejumlah kebakaran fatal di kapal peti kemas, mulai dari Maersk Honam, Hapag-Lloyd’s Yantian Express, APL Vancouver, dan Grimaldi Grande America. Meski semuanya tidak menyebabkan adanya korban jiwa, namun Grande America dinyatakan hilang usai tenggelam di pesisir Biscay, Perancis. Penyedia asuransi kargo, TT Club, menyebutkan bahwa kebakaran kapal peti kemas terjadi ratarata sebanyak sekali setiap 2 bulan.

Meski tampaknya lebih mudah untuk menyalahkan operator pelayaran peti kemas, namun pada banyak kasus kesalahan terletak pada pemilik barang. Seperti pada Maersk Honam, diduga kargo berbahaya yang tidak dinyatakan isinya (misdeclared cargoes of dangerous goods) menjadi penyebabnya. Kembali menurut data TT Club, ada sekitar 10 persen dari 60 juta peti kemas yang diangkut setiap tahun berisi kargo berbahaya.

Berdasarkan inspeksi badan pemerintah, 20 persen di antaranya dikemas dengan buruk atau tidak diidentifikasi dengan tepat dan jelas. Jadi ada sekitar 150 ribu peti kemas per tahun yang keliru dalam pernyataan kargo berbahayanya. Tahun 2015 terjadi ledakan dan kebakaran di Pelabuhan Tianjin yang menyebabkan 44 korban jiwa. Kejadian ini dipicu oleh pernyataan yang keliru dari kargo berbahaya. Keputusan pengadilan pada kasus kebakaran MSC Flaminia (2012) memutuskan bahwa pemilik, operator, dan manager kapal dinyatakan tidak bersalah. Kesalahan dinyatakan dilakukan oleh Deltech sebagai pemilik kargo dan operator non-kapal, Stolt Tank Containers.

Kasus tersebut bermula dari kekeliruan cara handling kargo berbahaya, divinylbenze, yang berisiko terpolimerisasi secara otomatis ketika terkena panas. Kargo tersebut ternyata berada di atas dek kapal selama 10 hari dalam cuaca panas, sebelum diangkut ke dalam kapal. Stolt sebagai forwarder tidak melaporkan risiko tersebut ke kapal pengangkut, Mediterranean Shipping Co. Jadi pada beberapa kasus, meski isi kargo berbahaya sudah dilaporkan, terkadang operator kapal tidak memahami cara handling kargo tersebut.

Kini beberapa operator pelayaran peti kemas besar mulai bekerja sama mencari inisiatif yang bisa diaplikasikan secara luas di industri pelayaran. Mulai dari langkah hukum yang tegas pada pemilik barang dan forwarder yang tidak menyatakan kargo berbahaya secara jelas dan akurat, hingga menyusun standarisasi dalam handling pengiriman kargo berbahaya. Tanggung jawab tersebut harus dipegang oleh semua bagian dalam rantai pasok. Seluruh pemangku kepentingan baik langsung maupun tidak langsung harus memahami dan melakukan hal yang tepat dalam menangani kargo berbahaya. Di atas semua itu, semua pihak dalam rantai pasok harus memiliki persepsi risiko yang realistis dan memiliki langkah bisnis yang bertanggungjawab terhadap kewajiban hukum masing-masing.

Jangan Sampai Genset Kapal Terbakar

Kapal-kapal besar yang menumpuh pelayaran jarak jauh, di dalamnya terdapat unit genset besar yang digunakan sebagai sumber listrik utama. Selama didalam kapal sebaiknya perhatikan kesehatan genset dengan memeriksanya berkala dan jangan sampai genset kapal terbakar karena dampaknya bisa membahayakan bagi keselamatan semua awak kapal.

Salah satu cara mencegah supaya mesin genset tidak terbakar dengan memeriksa kesehatanya secara berkala serta rutin mengganti setiap komponen yang sudah usang. Ingat, harga genset untuk kapal di palembang tidak murah, harganya mencapai miliaran rupiah setiap unitnya. Oleh karenanya sudah tanggung jawab semua awak kapal memperhatikan kondisi mesin genset secara berkala.

Author Vaunparly Category Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *