Indonesia Kaya Desa Wisata

August 2, 2019 @ 6:20 am

Indonesia Kaya Desa Wisata – Ada pepatah mengatakan, tak kenal maka tak sayang. Demikian pula dengan Indonesia, semakin mengenal keunikan dan keragaman budayanya, siapa saja sangat mungkin jatuh cinta dengan negeri ini. Seperti halnya Arief Yahya, Menteri Pariwisata yang menjabat pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo. Sekian lama mendalami dunia pariwisata, membuatnya semakin bangga dengan Indonesia. Rasa bangga Arief Yahya Menteri Pariwisata diwujudkan dengan bekerja keras memajukan pariwisata, salah satunya wisata alam indonesia.

Dia bukan hanya berlari, tapi langkah-langkah praktis yang dibuatnya membawa pariwisata di Indonesia kian melesat. Selama dua tahun lebih menjabat, dia sudah menggandeng sejumlah pihak, sebut saja para pengusaha pariwisata khususnya yang berbasis digital, lalu kerjasama dengan para pelaku perusahaan penerbangan hingga mewujudkan pembangunan desa wisata. Sebanyak 74.954 desa tersebar di seluruh nusantara, dengan 1.902 di antaranya sudah memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi desa wisata, yang biasanya memiliki keunikan alam serta daya tarik budaya.

Selain itu, capture moments untuk ikut hadir dalam kehidupan bersama penduduk lokal merupakan kesempatan yang banyak dicari oleh wisatawan. Desa wisata telah mulai dirintis sebelum masa jabatan Arief Yahya. Seiring berjalan waktu program-program kerja dan pengemasannya dilakukan dengan menyesuaikan kebutuhan wisatawan. Bicara keunikan, kehadiran desa wisata menjadi sinar tersendiri.

Kehidupan masyarakat pedesaan yang mengutamakan nilai-nilai gotong royong serta keseharian yang dekat dengan alam, menjadikan desa wisata memiliki daya tarik tersendiri untuk menjadi pilihan. Mengawali langkah pembentukan desa wisata pada Kabinet Kerja, Presiden Joko Widodo menggagas desa wisata pada Sabtu 15 Oktober 2016 di acara Sail Selat Karimata di Kalimantan Barat. Gagasan tersebut segera ditindaklanjuti oleh Menteri Pariwisata, Arief Yahya.

Pihaknya langsung menggandeng berbagai pihak yang terkait dengan pengembangan desa wisata. Pengembangan pariwisata itu melibatkan banyak sektor. Kita akan segera menentukan quick win, destinasi mana saja yang paling siap untuk diformat menjadi desa wisata, tutur Menpar Arief Yahya.

menciptakan attraction, access, dan accomodation (3A) yang terjangkau dengan memanfaatkan kelebihan kapasitas yang ada. Mewujudkan accomodation yang murah dan mudah, bisa dilakukan terobosan dengan membangun sebanyak mungkin homestay (rumah wisata) di desa-desa wisata seluruh pelosok Tanah Air. Dengan demikian, Indonesia bisa menjadi negara yang memiliki homestay terbanyak di dunia. Bersama ide pengembangan desa wisata, salah satu kebutuhannya adalah ketersediaan kebutuhan papan bagi wisatawan. Hal ini mendorong hadirnya ide pengadaan homestay yang cepat, tepat dan sesuai potensi Indonesia.

Pengembangan homestay dilakukan dengan mengedepankan keunikan daerah. Sebagian besar homestay dibuat dengan terinspirasi dari bentuk rumah adat daerah setempat, yang disesuaikan dengan kebutuhan wisatawan sebagai tamu. Kembali pada tujuan pembangunan paiwisata yakni untuk menyejahterakan. Untuk itu pengembangan desa wisata dan homestay perlu melibatkan masyarakat sekitar agar mereka dapat ikut merasakan manfaat dari aktifitas pariwisata, sambung Arief.

Untuk mencapai pembangunan, Kementerian Pariwisata sebagai fasilitator, membagi menjadi 4 (empat) mekanisme, yakni konversi, renovasi, revitalisasi dan bangun baru homestay, dengan target 20.000 homestay di tahun 2017. Pelaksanaannya pun melibatkan peran pihak-pihak terkait, termasuk di dalamnya beberapa kementerian dan lembaga. Diantaranya, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Kementerian Badan Usaha Milik Negara, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agraria dan Tata Ruang, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Badan Ekonomi Kreatif Indonesia dan Pemerintah Daerah serta masyarakat.

Desa Wisata Identitas Arsitektur Nusantara

Akhir Oktober 2016, Kementerian Pariwisata mengumumkan para pemenang Sayembara Desain Arsitektur Nusantara untuk homestay, yang mengacu pada budaya dan kearifan lokal Nusantara. Pada kesempatan tersebut ditetapkan 10 pemenang yang mewakili desain arsitektur homestay yang akan menjadi acuan pembangunan homestay di Tanah Air. Ide penyelenggaraan sayembara tersebut berawal dari keprihatinan Bapak Presiden mengenai tak adanya identitas arsitektur Nusantara. Seni dan budaya membangun rumah adat di Indonesia itu begitu beragam, dimana ratusan jumlah suku memiliki ratusan model arsitektur.

Ada Rumah Bolon di Sumatera Utara, Tongkonan di Toraja, Joglo dan pendopo Limasan di Jawa, atau rumah adat Bali dengan ornamen yang khas, papar Arief lagi. Sayembara Desain Arsitektur Nusantara untuk homestay dilakukan untuk memenuhi kebutuhan akomodasi yang sangat besar, setidaknya dibutuhkan 100 ribu kamar homestay di berbagai destinasi wisata utama kita.

Untuk pengadaan homestay, ada dua skema pembiayaan yang tersedia, yaitu subsidi dan non-subsidi. Untuk skema subsidi, Kementerian Pariwisata bekerjasama dengan BTN dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Untuk skema subsidi ini homestay wajib menggunakan desain hasil Sayembara Desain Arsitektur Nusantara. Sementara, untuk non-subsidi, luasan homestay bisa lebih fleksibel, desainnya bisa disesuaikan dengan kebutuhan, atau bisa juga homestay-nya merupakan renovasi dari rumah yang sudah ada.

Dengan prospek yang cukup menjanjikan tersebut, untuk beberapa daerah, skema kredit dalam koperasi sesungguhnya tidak menjadi masalah karena masih cukup menguntungkan. Tahun 2017 ditargetkan dibangun 20.000 homestay, tahun 2018 ditambah 30.000, dan 2019 dibangun 50.000 yang bakal mencapai 100.000 pada 2019. Pembangunan 100 ribu homestay yang akan kita mulai tahun depan sebagai momentum untuk mendorong terwujudnya low-cost tourism, tutupnya.

Author Vaunparly Category Wisata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *